INSANKITA.COM, KENDARI —
Di antara sorak bahagia dan toga-toga hitam yang berbaris rapi di aula Wisuda VIII Politeknik Bina Husada Kendari, seorang mahasiswi tampak memeluk erat kedua orang tuanya. Air matanya tumpah, bukan karena sedih, tetapi karena syukur yang tak tertahan. Ia adalah Ningrum, anak seorang Tukang Bangunan dari pelosok Konawe, yang hari itu resmi dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,98.
Bagi Ningrum, gelar itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menyebutnya “hadiah terbesar” untuk kedua orang tuanya yang selama ini berjuang dalam diam, membanting tulang sebagai tukang bangunan demi menyekolahkannya hingga perguruan tinggi.
“Saya hanya anak Tukang Bangunan, tapi hari ini saya bisa membuat mereka bangga. Ini bukan akhir, tapi awal dari perjuangan saya,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).
Perjalanan akademik Ningrum tidak selalu mulus. Di semester akhir, ia dihadapkan pada ujian berat: sang ibu jatuh sakit dan harus dirawat di ruang ICU. Saat teman-temannya sibuk mempersiapkan tugas akhir, Ningrum justru harus membagi waktu antara kuliah di Kendari dan merawat ibunya di Unaaha.
“Saya bolak-balik Unaaha–Kendari hampir setiap minggu. Rasanya lelah sekali, sempat ingin menyerah. Tapi bapak dan saudara-saudara selalu bilang, badai pasti berlalu,” kenangnya lirih.
Doa dan kesabaran akhirnya berbuah manis. Sang ibu pulih, bahkan hadir menyaksikan putrinya menerima piagam penghargaan di hari wisuda. Momen itu menjadi puncak kebahagiaan Ningrum — bukti nyata bahwa ketulusan dan keteguhan hati mampu menembus segala keterbatasan.
Selama menempuh pendidikan di Program Studi D3 Farmasi Politeknik Bina Husada Kendari, Ningrum dikenal sebagai sosok rajin dan ceria. Di tengah tekanan tugas dan praktikum yang padat, ia selalu berusaha menebar semangat kepada teman-temannya.
“Kami diajarkan banyak hal di kampus — bukan hanya teori, tapi juga bagaimana menjadi tenaga kesehatan yang humanis. Dosen-dosen kami selalu menanamkan pentingnya keramahan dan empati,” tuturnya.
Kini, Ningrum telah bekerja di salah satu apotek di Kabupaten Konawe. Meski baru lulus, semangat belajarnya tak surut. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana Farmasi, dengan tekad memperdalam ilmu agar bisa berkontribusi lebih besar di bidang kesehatan masyarakat.
Menurutnya, lulusan vokasi kesehatan memiliki tantangan baru di era digital. Dunia kesehatan kini menuntut tenaga profesional yang tak hanya terampil secara teknis, tapi juga melek teknologi.
“Kita harus bisa beradaptasi dengan sistem seperti telemedicine dan informasi kesehatan berbasis digital,” ujarnya mantap.
Ningrum menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna bagi mahasiswa lain yang masih berjuang menyelesaikan studi.
“Jangan menyerah hanya karena satu kegagalan. Jalani prosesnya dengan sabar, kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan jangan terlalu bergantung pada teman. Percayalah, usaha sendiri itu akan terasa lebih indah hasilnya,” pesannya.
Baginya, keberhasilan bukan tentang seberapa cepat seseorang sampai di garis akhir, tetapi tentang bagaimana ia bertahan di tengah perjalanan.
Dan hari itu, di antara toga-toga yang beterbangan, Ningrum membuktikan bahwa dari anak tukang bangunan yang sederhana pun, bisa tumbuh bunga prestasi yang harum hingga ke panggung wisuda.
Laporan: Redaksi



















